Iklan Saya Klik

Wednesday, March 18, 2015

Kesultanan Demak

Kesultanan Demak, adalah kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Raden Patah (bergelar Alam Akbar Al Fattah) adalah putra Raja Majapahit Brawijaya, dengan ibu keturunan Champa (daerah yang sekarang adalah perbatasan Kamboja dan Vietnam)

Pada awal abad keempat-belas, Kaisar Yan Lu dari dynasti Ming mengirimkan seorang Putri kepada Brawijaya dikerajaan Majapahit sebagai tanda persahabatan kedua negara. Putri yang cantik-jelita dan pintar ini segera mendapatkan tempat istimewa dihati Raja. Raja Brawijaya sangat tunduk pada semua kemauan sang puteri jelita, yang nantinya membawa banyak pertentangan dalam istana Majapahit.

Pada saat itu, Raja Brawijaya sudah memiliki permaisuri yang berasal Champa, masih kerabat Raja Champa dan memiliki julukan Ratu Ayu Kencono Wungu. Makamnya saat ini ada di Trowulan, Mojokerto. Sang permaisuri memiliki ketidak cocokan dengan putri pemberian Kaisar Yan Lu.

Akhirnya Raja Brawijaya dengan berat hati harus menyingkirkan Puteri cantik ini dari Majapahit. Dalam keadaan mengandung Puteri cantik itu dihibahkan oleh Raja Brawijaya kepada Adipati Palembang, Arya Sedamar. Dan disanalah Jim-Bun atau Raden Patah dilahirkan.

Dari Arya Sedamar, putri ini memiliki seorang anak laki laki. Dengan kata lain Raden Patah memiliki adik laki laki seibu, tapi berbeda ayah.

Setelah memasuki usia belasan tahun, Raden Patah, bersama adiknya, dan diantar ibunya berlayar ke Pulau Jawa untuk belajar di Ampel Denta. Raden Patah mendarat dipelabuhan Tuban sekitar tahun 1419 Masehi.

Ibunda Raden Patah setelah mangkat disemayamkan di Rembang.

Jim-Bun atau Raden Patah sempat tinggal beberapa lama di Ngampel-delta dirumah pamannya, kakak-misan ibunya, Sunan Ngampel dan juga bersama para saudagar besar muslim ketika itu.

Disana ia pula mendapat dukungan dari rekan2 utusan Kaisar Cina, Panglima Cheng Ho atau juga dikenal sebagai Dampu-awang atau Sam Poo Tai-jin. Panglima berasal dari Xin-Kiang, pengenal Islam.

Menurut catatan digoa Batu, Semarang tujuh dari sembilan para Wali-Songo adalah keluarga dan rekan Panglima Cheng-Ho yang juga beasal dari daratan China.

Saat itu pengaruh Majapahit telah memudar, dan wilayahnya hanya sebagian kecil Jawa Timur. Paden Patah meninggal tahun 1518, dan digantikan oleh menantunya, Pati Unus. Pada tahun 1521, Pati Unus memimpin penyerbuan ke Malaka melawan pendudukan Portugis. Pati Unus gugur dalam pertempuran ini, dan digantikan oleh adik iparnya, Sultan Trenggana.

Cikal Bakal Demak Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, Secara praktis wilayah - wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah - wilayah yang terbagi menjadi kadipaten - kadipaten tersebut saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Wali Sanga, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syech Siti Jenar.

Demak di bawah Pati Unus Demak di bawah Pati Unus adalah Demak yang berwawasan nusantara. Pati Unus adalah seorang raja yang memimpikan kembalinya kejayaan Majapahit melalui Demak. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kesultanan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Dengan adanya Portugis di Malaka, kehancuran pelabuhan-pelabuhan Nusantara tinggal menunggu waktu.

Demak di bawah Sultan Trenggono Sultan Trenggono berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggono, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggono. Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto

Kemunduran Demak Suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak mulus; Sunan Prawoto ditentang oleh adik Sultan Trenggono, Pangeran Seda Lepen. Pangeran Seda Lepen terbunuh, dan akhirnya pada tahun 1561 Sunan Prawoto beserta keluarganya dihabisi oleh suruhan Arya Penangsang, putera Pangeran Seda Lepen. Arya Penangsang kemudian menjadi penguasa tahta Demak. Suruhan Arya Penangsang juga membunuh Adipati Jepara, ini menyebabkan banyak adipati memusuhi Arya Penangsang.

Arya Penangsang akhirnya dihabisi oleh pasukan Joko Tingkir, menantu Sunan Prawoto. Joko tingkir memindahkan istana Demak ke Pajang, dan di sana ia mendirikan Kesultanan Pajang.

Arya Jipang, apa kesamaannya Dengan Datuk Merpati Jepang


Arya Jipang, yupe Arya Jipang. Saya menulis kisah ini karena ada seorang temen yang bertanya tentang nama saya di facebook, yaitu Arya Jipang. Baiklah aku ceritakan Arya Jipang itu siapa, yaitu sebuah kesatria yang di buat menjadi tokoh antagonis oleh penguasa waktu itu, itu setidaknya menurut saya, nanti silahkan menilai sendiri di akhir cerita.
Arya, Aria atau Harya berarti sama menurut orang Jawa, yaitu kesatria tanah jawa (setidaknya itulah yang dikatakan bapakku ketika aku bertanya tentang arti namaku, -red). Sedangkan Jipang itu bukan pelesetan dari Jepang sebuah negara di Asia, Jipang adalah sebuah kota di dekat Cepu, naik motor sekitar 30 sampai 60 menit dari Cepu. Sekarang Jipang adalah sebuah desa kecil, sepi, tidak ada yang menarik di sana, kecuali terdapat jejak-jejak bersejarah di sana, misalnya kuburan santri pitu (santri tujuh). Di Jipang, dahulu kala mengalir sebuah sungai kecil (kalau menurut saya itu sebuah parit untuk mengaliri air ke sawah-sawah) bernama Bengawan Sore (bengawan = sungai, red) yang saat ini sudah tidak terlihat bekasnya karena sudah kering. Mungkin bagi sebagian penduduk Jawa Tengah sudah bisa menebak siapakah Arya Jipang melalui penjelasan singkat di atas. Baiklah kita mulai riwayatnya.
Dahulu kala ada sebuah kerajaan di tanah jawa, Sultan tersebut mempunyai beberapa anak, dan mempunyai putera mahkota. Sang putera mahkota namanya hingga sekarang terukir di buku-buku sejarah SD (setidaknya buku sejarah SD pada jaman saya, -red), karena beliau pernah memimpin penyerbuan terhadap portugis di Malaka. Sayang, sebelum sempat menggantikan Sang Sultan, Sang putera Mahkota wafat (wafatnya bukan karena gugur ketika menyerang portugis, -red). Kemudian setelah Sang Sultan wafat, terjadi gara-gara (baca : goror-goro = kekacauan, -red) di dalam istana, Suramiyata sang adik Putera mahkota merasa berhak menjadi Sultan karena dia adalah putera kedua setelah Sang Putera Mahkota. Tetapi, sang adik, sebut saja ST juga ingin menjadi Sultan. Maka ST melakukan kudeta, Suramiyata terdesak dan beliau keluar istana dengan membawa seorang putera yang masih bayi dan berada di gendongannya. Sesampai di sebuah sungai, posisi Suramiyata semakin terjepit, dan beliau pun gugur di sungai tersebut oleh SP, anak ST. Karena kematian beliau di tepi sungai, maka beliau di beri julukan, Panembahan Sekar Seda Lepen (Bunga Yang Gugur di Sungai).
Karena sang bapak gugur, maka bayi yang berada di gendongannya hanyut terbawa arus sungai, dan ditemukan oleh salah seorang wali songo, sebut saja SK. Bayi inilah yang ketika besar disebut Arya Jipang. Dan ketika sang waktu terus berlalu, ST pun wafat sehingga digantikan oleh SP.
Sebuah episode dari konflik berdarah segera terjadi ketika Arya Jipang beranjak dewasa, ketika Arya Jipang bukan lagi sebuah bayi yang belum mengerti akan sebuah sejarah masa silam, sehingga Arya Jipang bertekad untuk menuntut balas atas kematian ayahnya. Hutang nyawa harus dibalas nyawa, untuk menuntaskan hutang yang belum dilunasi oleh SP, lalu Arya Jipang mengirim utusan untuk membunuh SP, lalu lunaslah hutang-piutang antara SP dengan Arya Jipang dengan ditandai tewasnya SP. Akan tetapi, permasalahan tidak selesai sampai disitu saja, karena konflik ini meluas dengan memakan korban seorang menantu ST, yaitu Pangeran Hadiri. Hutang nyawa pun harus dibalas nyawa juga, Istri pangeran Hadiri tidak terima, lalu dia bertapa telanjang di dalam goa di sebuah bukit. Dia juga membuat Sayembara yang berisi, siapa yang dapat membunuh Arya Jipang, maka akan mewarisi tahta Kesultanan Demak. Seorang kesatria muncul, yang tidak lain adalah adik iparnya yang bernama JK (bukan Jusuf KallaXP -red), dia bersedia menerima misi untuk membunuh Arya Jipang. Kebingungan mulai muncul, siapakah pemimpin perang yang bisa dan mampu untuk memimpin prajurit Demak untuk menghancurkan kekuatan musuh di Jipang, dan akhirnya JK membuat pengumuman untuk mencari pemimpin perang tersebut, yaitu bahwa siapa yang bisa membunuh Arya Jipang, akan diberi sebuah bumi perdikan (kalau sekarang bisa dinamakan daerah otonom, -red). Dan kemudian seorang prajuritnya bersedia meneria titah tersebut, dia adalah Ki Ageng Pemanahan. Berdasarkan nasehat dari adik seperguruannya yang bernama Ki Juru Mertani, maka diusulkanlah Mas Ngabehi Loring Pasar untuk memimpin Prajurit Demak ke arah timur. Akan tetapi misi ini hampir tidak mungkin bisa sukses, bagaimana mungkin seorang anak muda yang masih hijau mampu mengalahkan seorang kesatria besar seperti Arya Jipang?
Seperti kita ketahui, untuk mengetahui peta kekuatan musuh, maka dibutuhkan intelejen, maka ditengah konflik itu, pihak kesultanan mengutus tujuh orang intelejen untuk menyamar menjadi santri ke Jipang. Akan tetapi na’asnya tujuh orang tersebut ketahuan dan di beri hukuman mati dan dkuburkan di Jipang, dan begitulah peperangan, tidak ada kehormatan dalam sebuah peperangan.
Mengetahui intelejennya gagal, JK melakukan misi diplomatik dengan pergi mendatangi Arya Jipang. Mengetahui akan datangnya JK, SK melihat ada kesempatan untuk mengalahkan Demak dengan cara membunuh JK. Lalu SK merajah (memberi mantra, -red) sebuah kursi yang diproyeksikan akan diduduki JK, dan ketika JK menduduki kursi tersebut diharapkan segala kesaktian JK akan hilang. Akan tetapi, JK bukanlah bayi kemarin sore, dia tahu apa yang sedang direncanakan SK, maka dengan sedikit memanas-manasi dia menantang Arya Jipang untuk menduduki kursi tersebut . Karena Arya Jipang mudah terpancing emosi, maka dia menduduki kursi tersebut, dan musnah lah segala kesaktiannya.
SK kecewa melihat Arya Jipang yang mudah emosi, sehingga rencanya berantakan. Setelah kehilangan kesaktiannya, maka untuk mengembalikan kekuatan Arya Jipang, Arya jipang berpuasa 40 hari tanpa makan dan minum. Pada titik ini terdapat dua versi cerita, ada yang mengatakan Arya Jipang salah hitung, sehingga baru 39 hari Arya Jipang sudah mengadakan pesta, sehingga puasanya batal dan hanya lapar-dahaga yang diperolehXP. Tetapi versi lain mengatakan bahwa Arya Jipang telah menggenapi 40 hari, sehingga beliau memperoleh kembali kekutannya.
Kemudian hari berlalu, Setelah kesultanan memiliki kesatria yang akan digunakan untuk menaklukkan Arya Jipang, yaitu Mas Ngabei Loring Pasar. Maka kesultanan mengirim sebuah surat tantangan kepada Jipang, tetapi sadisnya untuk mempermalukan Arya Jipang, pihak kesultanan mendatangi seorang pencari rumput di kadipaten Jipang. Mereka memotong salah satu kuping pencari rumput tersebut, dan meletakkan surat di kuping yang lainnya. Melihat hal tersebut, Arya Jipang merasa dihinakan, dia menerima tantangan tersebut. Kemudian kedua belah pihak mulai menyusun tak-tik peperangan, SK meminta Arya Jipang bertahan di daerahnya, Arya jipang harus bertahan di tepi sungai bengawan sore dan membiarkan Prajurit Demak melintasinya, karena Sungai tersebut akan di rajah, sehingga barang siapa yang melewati sungai tersebut, segala kesaktiannya akan hilang.
Prajurit Kesultanan bergerak ke arah Kadipaten Jipang dengan dipimpin seorang pemuda yang gagah berani, Mas Ngabei Loring Pasar dengan membawa sebah tombak, bernama Tombak Kyai Plered, tidak asing bukan namanya?. Mas Ngabei Loring Pasar awalnya agak gentar juga menghadapi Arya Jipang yang jauh lebih matang dari dirinya. Akan tetapi, karena pihak kesultanan mempunyai seorang Ki Juru Mertani, seorang bijaksana yang ahli stategi perang, maka Mas Ngabei Loring Pasar pun menerima misi yang berat tersebut. Mengetahui bahwa Arya Jipang bukanlah tandingan Mas Ngebei Loring pasar muda, Ki Juru Mertani pun mempunyai strategi kusus untuk menghadapi Arya Jipang.
Sebagai informasi, di jamannya Arya Jipang adalah sebuah kesatria yang sudah punya nama besar, beliau memiliki sebuah keris pusaka, yaitu Kyai Setan Kober, dan kuda jantan hitam kesayangannya, Gagak Rimang. Maka berdasarkan usul dari Ki Juru Mertani, Mas Ngabei loring Pasar di beri kuda betina putih untuk di gunakan selama bertempur, dan diberi pesan agar tidak menyeberangi Bengawan Sore.
Singkat cerita, Laju pasukan kavaleri Mas Ngabei Loring Pasar terhenti di tepi bengwan sore, di sisi lain sungai tersebut sudah digelar pasukan Arya Jipang. Pertempuran pun akan segera terjadi, dan membiarkan Bengawan sore menjadi saksi bisu sejarah ini, sebuah sejarah yang tidak pernah tertulis dibuku sejarah SD, SMP, maupun SMA. Suasana di bengwan sore hari itu cukup ramai, sebuah ibu kota kadipaten kecil yang biasanya sepi kini menjadi ramai, di penuhi oleh kesatria-kesatria Jawa untuk beradu kesaktian.
Arya Jipang dengan menunggangi Gagak Rimang dan berbekal Setan Kober memimpin di garis depan prajuritnya, beliau dihujani beribu-ribu anak panah dari kesatria-kesatria Kesultanan, akan tetapi panah-panah tersebut tidak pernah mau untuk melukai Arya Jipang. Arya Jipang mulai diatas angin, dia berteriak-teriak menantang kesatria-kesatria Kesultanan untuk datang menghadapinya. Disaat itulah muncul sosok anak muda Mas Ngabei Loring Pasar dari balik kerumunan kesatria-kesatria Kesultanan.
Mas Ngabei Loring Pasar dengan agak gentar dan membawa sebuah pusaka tombak kyai Pleret, berjalan dengan menunggangi kuda putih betinanya ke tepi sungai, sebuah langkah perlahan tapi pasti. Melihat seorang pemuda dengan kuda betinanya menghampiri dari seberang sungai. Gagak Rimang, sang kuda, menjadi birahi, kuda tersebut langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepada kuda lawannya. Arya Jipang jadi kebingungan, dia tidak dapat mngentrol kuda kesayangannya, dan berlarilah Gagak Rimang menyeberangi sungai dengan membawa Arya Jipang diatasnya.
Dengan seketika ilmu kesaktian Arya Jipang hilang, sesampainya di hadapannya, Mas Ngabei Loring Pasar segera menancapkan tombak kyai pleret ke perut Arya Jipang. Usus Arya Jipang segera terburai. Berdasarkan kebiasaan kesatria jawa, ketika perang, jarik yang dikenakan akan diselempangkan ke warangka (wadah, -red) keris untuk memudahkan pergerakan, begitu pula usus Arya Jipang yang terburai, usus-usunya di selempangkan ke warangka Setan Kobernya. Mas Ngabei Loring Pasar mulai gentar ketika melihat usus musuhnya sudah teburai tapi belum mati, dan kini jarak tempur mereka sudah pendek, bisa saja nyawanya melayang dengan sekali tebasan dari Arya Jipang. Ketika jarak pertempuran sudah pendek, Arya Jipang mengeluarkan Setan Kober dari warangkanya, dan….
Gugurlah Arya Jipang di tepi sungai ketika mengeluarkan kerisnya, usus-usunya terpotong oleh kerisnya sendiri ketika hendak di cabut. Dan gugur lah beliau di Sungai, seperti bapaknya yang gugur di tepi sungai.
Itu lah sekelumit sebuah kisah yang sudah banyak di belokkan.Sebuah Kesultanan yang baru merintis dinastinya hancur karena pertikaian internal keluarga, sebuah Kesultanan Demak Bintara, yang didirikan oleh Babah Patah (Raden Fattah), dan mempunyai putera mahkota Pati Unus atau lebih terkenal dengan istilah Pangeran Sabrang Lor (Secara bahasa, Pengeran Pati adalah Putera mahkota, Sabrang adalah Menyeberang, Lor adalah Utara. Dia dijuluki seperti karena memimpin penyerbuan ke Malaka yang mana utara pulau jawa, -red). Pati Unus mempunyai adik, yaitu Sultan Trenggono (ST) dan Suramiyata. Sunan Trenggono mempunyai anak Sunan Prawoto (SP) yang dibunuh utusan Arya Jipang, Ratu Kali Nyamat, dan seorang Puteri yang di peristri Mas Krebet alias Jaka Tingkir (JK) alias Sultan Hadiwijaya. Ratu Kalinyamat punya suami yang bernama Pangeran Hadiri yang juga terbunuh, dan kemudian dia bertapa telanjang.
Sedangkan Suramiyata alias Panembahan Sekar Seda Lepen mempunyai anak yang hanyut ketika beliau wafat di Sungai, dan anak tersebut ditemukan oleh Sunan Kudus (SK) di tepi sungai, maka dia diberi nama Arya Penangsang (Penangsang = tersangkut, -red). Karena Arya Penangsang adalah seorang kesatria dari Jipang, maka dia disebut Arya Jipang. Ironisnya Arya Jipang terbunuh oleh kerisnya sendiri ketika bertempur melawan Danang Sutawijaya yang merupakan anak Ki Ageng Pemanahan. Dia di beri gelar Mas Ngebei Loring Pasar karena dia seorang kesatria serba bisa (Ngabehi) dan rumahnya berada di Utara pasar (Loring Pasar, Lor = utara, -red), dan kemudiana kita kenal sebagai Panembahan Senapati Ing Alaga (Senapati = panglima perang, Ing = di, Alaga = peperangan, -red), jadi berarti Pemimpin yang Merupakan Panglima perang di peperangan.
Setelah mengalahkan Arya Jipang (Arya Penangsang), Jaka Tingkir mewarisi kesultanan Demak, dan namanya di ganti menjadi Kesultanan Pajang, karena ibu kotanya di pindah ke daerah Pajang, sekarang dekat solo. Kemudian Jaka Tingkir memenuhi janjinya kepada Ki Ageng Pemanaham untuk memberikan sebidang tanah perdikan, yaitu Bumi Mentaok atau Alas Mentaok (alas = hutan, -red). Alas Mentaok terletak di Yogyakarya, atau sekarang terkenal dengan nama kota gedhe.
Begitulah akhir cerita ini, Anda dapat menyimpulkan sendiri, paling tidak persepsi terhadap Arya Jipang bisa berubah, karena Arya Jipang di daerah sekitar Blora dianggap sebagai pahlawan.
Sumber : Cerita sebelum tidur ketika aku masih kecil oleh Bapakku dan Almarhumah Ibuku.

Abang Yusuf Puteh

Former Sarawak State Secretary Datuk Amar Abang Yusuf Abang Puteh, who passed away at 74 after a long illness last November 9, will always be remembered as one of Sarawak’s foremost Malay (Berunai) intellectuals and the man who said ‘no’ to long-serving Melanau Dayak Chief Minister Tan Sri Dr Abdul Taib Mahmud.

Abang Yusuf from Saratok near Sri Aman (Simanggang) was State Secretary during the 1970-1981 Chief Ministership of Taib’s uncle Tun Abdul Rahman Yaakub, the first Melanau Chief Minister of Sarawak.

He served in the Sarawak Civil Service for 24 years before becoming State Secretary. He retired in 1985.

Abang Yusuf formed the opposition Sarawak Malaysian People’s Party (Permas) and contested in the 1987 State Legislative Assembly election. He won a the Kalaka seat in his hometown and served for a term.

Abang Yusuf was a strong proponent of indigenous self-reliance and unity and opposed religious and racial extremism.

He was opposed to what he alleged was Taib’s and earlier Rahman’s political favouritism towards their own indigenous tribe.

Abang Yusuf was also a notable historian who had extensive knowledge of Sarawak’s indigenous people especially the Malays.

He shared the late Sarawak Museum curator Tom Harrison’s viewpoint that the Sarawak Malay people were not descendants of immigrants from Peninsular Malaysia’s Johor-Riau people or any of the Aboriginal Malay tribes of the Peninsula such as the Temuans (the taproot of the Johor-Riaus), the Beras (who are also called Minangkabaus and Semelais), the Kanaks (the Kedahs), the Bulangs (the Kelantans), the Kualas, the Seletars, the Bintans and the Batams.

Instead, he and Harrison stated through extensive research that the Sarawak Malay people were the Berunai who founded Brunei and were from the Kadayan or Kedayan Dayak people of Sarawak, a close relative of the Iban Dayak majority.

Abang Yusuf retired from politics in 1991 and devoted his time to writing memoirs and books about Sarawak’s rich history.

Until his last days, he stood firm in asking the Chief Minister to step down and make way for new blood to take over the Chief Ministership.

Abang Yusuf famously slammed the Chief Minister in 1988 for changing the Sarawak state flag which Rahman and the Chief Minister himself introduced in 1973 to replace the 1846 state flag which was designed by the private colonialist Sir James Brooke.

Abang Yusuf reasoned that flag-changing was a waste of money and it was ‘pointless’ to change the 1973 flag just because it looked like that of the then Communist-ruled Czechoslovakia (now split into the Czech Republic and Slovakia).

Abang Yusuf also rejected Taib’s grounds that the 1973 flag’s colours of red, white and blue were ‘too British and too colonial’.

Furthermore, he said the introduction of black to the 1988 flag was not sensitive to the feelings of Malaysian Chinese.

Sarawak’s current state flag is yellow with two diagonal bands of black (top) and red and a 9-point yellow star between them in the centre.

The bands run from the top left corner to the bottom right corner of the flag.

The colours of yellow, black and red are the traditional colours of Brunei, Sarawak’s original overlord and from whose royals Abang Yusuf is descended.

The design of the flag was that of the proposed federation of Bornesia mooted in the early 1960s by the British.

Bornesia was to comprise Sarawak, Brunei and Sabah and was to be headed by the Sultan of Brunei.

Sarawak’s first flag was a variation of the flag of England with the St George Cross halved black on the left and red on the right, set on a yellow background.

The Sultan of Brunei back then, Sultan Omar Ali Saifuddin had told Sir James not to use the flag of his native England as the flag of Sarawak, but modify it to include the state colours of Brunei.

The 1973 flag Rahman and Taib introduced had two horizontal halves of red (top) and white with a blue triangle at the left and it looked almost like the flag of the Czech Republic.

This flag was based on another flag of Bornesia which was introduced by Brunei’s first democratically elected Prime Minister the late Sheikh Azahari Mahmud, the grandson of former British colonial Resident of Perak Sir Hugh Low, the first Englishman to conquer Mount Kinabalu in Ranau, Sabah.

Azahari was sacked as Prime Minister of Brunei in 1962 by Sultan Omar Ali Saifuddin, the late father of Brunei’s current monarch Sultan Hassanal Bolkiah (this is a different Sultan Omar, the other whom Sir James met was his great-great grandfather).

With the backing of the late President Ahmad Sukarno of Indonesia, Azahari subsequently launched a poorly planned insurrection against British colonial rule in Brunei which quickly fizzled.

This insurrection was the run-up to the 1963-1966 Indonesia-Malaysia Confrontation declared by Sukarno to oppose the merger of Malaya, Singapore, Sarawak and Sabah as the Federation of Malaysia (a new federation to replace Malaya and which comprised 11 states in Malaya and three self-governing region-states namely Singapore, Sarawak and Sabah each with equal status to the whole of Malaya).

At that time Brunei was controlled by a British Resident who ‘advised’ the Sultan on all matters of state.

Brunei gained independence on January 1, 1984.

It had been run by a British Resident since 1888, thanks to the machinations of the Brooke dynasty of Sarawak.

Azahari was sent into exile in Indonesia and died there in 2002.

As an Indonesian citizen, he became very close to former President Megawati Sukarnoputri and supported her political campaigns till the end.

At the time of his passing, a pardon for Azahari was in the pipeline from Sultan Hassanal Bolkiah.

Azahari’s right-hand man was Tun Ahmad Zaidi Adruce Mohamad Noor, a Melanau politician from Sibu.

Ahmad Zaidi subsequently received a pardon from the first Sarawak State Governor the late Tun Abang Openg Abang Sapiee who served from 1963 until his death in 1969.

Abang Openg was the father of Sarawak State Cabinet Minister Datuk Seri Abang Johari Abang Openg.

The Opengs are relatives of Abang Yusuf being Brunei royals.

Until the day he died, Abang Yusuf supported Abang Johari for the post of Chief Minister, reasoning that he was a man for all races and faiths.

The Melanaus are the indigenous people of the Rejang basin of Sarawak and they form 18 percent of Sarawak’s population.

However, official statistics inherited from the Brookes are misleading because they put 11 out of 18 percent of Melanaus as Malays (Berunais), leaving only the 7 percent Melanaus from the Mukah municipality, the Melanau heartland near Sibu, gazetted as Melanaus.

Sir James suppressed Melanau identity after the famous Melanau chieftain Sharif Masahor revolted against British rule.

He made many Melanaus register for the census as Malays, sans those living in Mukah.

It can be said that almost everyone gazetted as Malay in the Sibu, Sarikei, Kapit, Bintulu and Miri residencies or divisions of Sarawak is actually Melanau.

The real Malays (Berunais) are found in the residencies of Kuching, Samarahan (Muara Tuang), Sri Aman (Simanggang), Betong and Limbang.

The Malays ran the kingdom of Brunei covering Kuching, Samarahan, Sri Aman and Betong since time immemorial.

After a dispute between two factions of the royal clan called the Abangs, one faction, the Awangs went to the kingdom of the Melanaus centred in Mukah and covering Sibu, Sarikei, Kapit, Bintulu, Miri, Limbang and modern-day Brunei (technically an extension of the Limbang residency).

The Melanau king gave the Awangs control of the Limbang region.

There the Awangs created a second kingdom of Brunei called East Brunei in contrast to the West Brunei, their original home.

West Brunei was subsequently renamed Sarawak, leaving East Brunei as just Brunei.

Sir James occupied the Melanau kingdom after defeating Sharif Masahor in battle.

Sharif Masahor was banished to Selangor where he became a prominent minister in Sultan Abdul Samad’s court until his death.

Sharif Masahor’s relative Tuanku Bujang Tuanku Osman became Sarawak’s second State Governor from 1969-1977.

His son is retired politician Datuk Wan Yusuf Tuanku Bujang, a good friend of Abang Yusuf.

His grand-nephew is Deputy Speaker of the Malaysian House of Representatives (People’s Assembly) Datuk Wan Junaidi Tuanku Jaafar.

Brunei eventually ceded the present-day Limbang and Lawas districts, together known as Limbang Division or Limbang Residency to Sir James.

This resulted in Brunei’s division into two zones - Metropolitan Brunei covering the districts of Muara or Bandar Seri Begawan, Tutong and Belait and Temburong or Bangar which is separated from Muara by Limbang.

The ceding of Limbang and Lawas to Sarawak gave Sarawak a land border with Sabah and made Brunei a virtual enclave of Sarawak.

The Sarawak Malays (Berunais) form 11 percent of the state’s population even though they officially form 22 percent (the other 11 percent are Melanaus).

Out of the 11 percent, 6 percent live in Kuching and Samarahan, and the rest in Sri Aman, Betong (including Saratok) and Limbang.

Ibans form 30 percent of the state’s population while Bidayuh Dayaks form 8 percent.

Kenyah Dayaks form 2 percent while Kelabit Dayaks form 1 percent.

The remaining 30 percent is the Sarawak Chinese whose ancestors arrived from Singapore during the era of British colonialism.

Sarawak Chinese are largely Hokkiens (both Amoy or South Hokkien and Foochow or North Hokkien, the latter heavily concentrated in Sibu) and Hakkas, with a small number of Cantonese.

Rahman’s first wife the late Toh Puan Normah Abdullah was a Sarawak Chinese and the Normah Medical Centre in Kuching where Abang Yusuf spent his final days was named after her.

Taib’s late wife Puan Sri Laila Abu Bakar was of Tatar (Azeri) ancestry from the former Soviet Union. Her family lived for generations in Lithuania and Poland before moving to Australia where she met Taib.

The Ibans provided Sarawak with its first two Chief Ministers namely the late Tan Sri Stephen Kalong Ningkan (1963-1966) and Datuk Tawi Sili (1966-1970).

All subsequent Sarawak Chief Ministers have been Melanaus, likewise Sarawak State Governors beginning with Bujang.

Rahman was Sarawak State Governor from 1981-1985. He was succeeded by Ahmad Zaidi (1985-2000) and Tun Abang Luis (or Abang Salahuddin) Barieng.

Abang Salahuddin also served as State Governor after Bujang from 1977-1981.

The Abang and Awang titles are not confined to Malays but also include Melanaus.

They denote aristocrats (royals) of the Malays and Melanaus.

Abang Yusuf is survived by his wife Datin Amar Rugayah Majid and three children.