Iklan Saya Klik

Showing posts with label jepang. Show all posts
Showing posts with label jepang. Show all posts

Wednesday, March 18, 2015

Arya Jipang, apa kesamaannya Dengan Datuk Merpati Jepang


Arya Jipang, yupe Arya Jipang. Saya menulis kisah ini karena ada seorang temen yang bertanya tentang nama saya di facebook, yaitu Arya Jipang. Baiklah aku ceritakan Arya Jipang itu siapa, yaitu sebuah kesatria yang di buat menjadi tokoh antagonis oleh penguasa waktu itu, itu setidaknya menurut saya, nanti silahkan menilai sendiri di akhir cerita.
Arya, Aria atau Harya berarti sama menurut orang Jawa, yaitu kesatria tanah jawa (setidaknya itulah yang dikatakan bapakku ketika aku bertanya tentang arti namaku, -red). Sedangkan Jipang itu bukan pelesetan dari Jepang sebuah negara di Asia, Jipang adalah sebuah kota di dekat Cepu, naik motor sekitar 30 sampai 60 menit dari Cepu. Sekarang Jipang adalah sebuah desa kecil, sepi, tidak ada yang menarik di sana, kecuali terdapat jejak-jejak bersejarah di sana, misalnya kuburan santri pitu (santri tujuh). Di Jipang, dahulu kala mengalir sebuah sungai kecil (kalau menurut saya itu sebuah parit untuk mengaliri air ke sawah-sawah) bernama Bengawan Sore (bengawan = sungai, red) yang saat ini sudah tidak terlihat bekasnya karena sudah kering. Mungkin bagi sebagian penduduk Jawa Tengah sudah bisa menebak siapakah Arya Jipang melalui penjelasan singkat di atas. Baiklah kita mulai riwayatnya.
Dahulu kala ada sebuah kerajaan di tanah jawa, Sultan tersebut mempunyai beberapa anak, dan mempunyai putera mahkota. Sang putera mahkota namanya hingga sekarang terukir di buku-buku sejarah SD (setidaknya buku sejarah SD pada jaman saya, -red), karena beliau pernah memimpin penyerbuan terhadap portugis di Malaka. Sayang, sebelum sempat menggantikan Sang Sultan, Sang putera Mahkota wafat (wafatnya bukan karena gugur ketika menyerang portugis, -red). Kemudian setelah Sang Sultan wafat, terjadi gara-gara (baca : goror-goro = kekacauan, -red) di dalam istana, Suramiyata sang adik Putera mahkota merasa berhak menjadi Sultan karena dia adalah putera kedua setelah Sang Putera Mahkota. Tetapi, sang adik, sebut saja ST juga ingin menjadi Sultan. Maka ST melakukan kudeta, Suramiyata terdesak dan beliau keluar istana dengan membawa seorang putera yang masih bayi dan berada di gendongannya. Sesampai di sebuah sungai, posisi Suramiyata semakin terjepit, dan beliau pun gugur di sungai tersebut oleh SP, anak ST. Karena kematian beliau di tepi sungai, maka beliau di beri julukan, Panembahan Sekar Seda Lepen (Bunga Yang Gugur di Sungai).
Karena sang bapak gugur, maka bayi yang berada di gendongannya hanyut terbawa arus sungai, dan ditemukan oleh salah seorang wali songo, sebut saja SK. Bayi inilah yang ketika besar disebut Arya Jipang. Dan ketika sang waktu terus berlalu, ST pun wafat sehingga digantikan oleh SP.
Sebuah episode dari konflik berdarah segera terjadi ketika Arya Jipang beranjak dewasa, ketika Arya Jipang bukan lagi sebuah bayi yang belum mengerti akan sebuah sejarah masa silam, sehingga Arya Jipang bertekad untuk menuntut balas atas kematian ayahnya. Hutang nyawa harus dibalas nyawa, untuk menuntaskan hutang yang belum dilunasi oleh SP, lalu Arya Jipang mengirim utusan untuk membunuh SP, lalu lunaslah hutang-piutang antara SP dengan Arya Jipang dengan ditandai tewasnya SP. Akan tetapi, permasalahan tidak selesai sampai disitu saja, karena konflik ini meluas dengan memakan korban seorang menantu ST, yaitu Pangeran Hadiri. Hutang nyawa pun harus dibalas nyawa juga, Istri pangeran Hadiri tidak terima, lalu dia bertapa telanjang di dalam goa di sebuah bukit. Dia juga membuat Sayembara yang berisi, siapa yang dapat membunuh Arya Jipang, maka akan mewarisi tahta Kesultanan Demak. Seorang kesatria muncul, yang tidak lain adalah adik iparnya yang bernama JK (bukan Jusuf KallaXP -red), dia bersedia menerima misi untuk membunuh Arya Jipang. Kebingungan mulai muncul, siapakah pemimpin perang yang bisa dan mampu untuk memimpin prajurit Demak untuk menghancurkan kekuatan musuh di Jipang, dan akhirnya JK membuat pengumuman untuk mencari pemimpin perang tersebut, yaitu bahwa siapa yang bisa membunuh Arya Jipang, akan diberi sebuah bumi perdikan (kalau sekarang bisa dinamakan daerah otonom, -red). Dan kemudian seorang prajuritnya bersedia meneria titah tersebut, dia adalah Ki Ageng Pemanahan. Berdasarkan nasehat dari adik seperguruannya yang bernama Ki Juru Mertani, maka diusulkanlah Mas Ngabehi Loring Pasar untuk memimpin Prajurit Demak ke arah timur. Akan tetapi misi ini hampir tidak mungkin bisa sukses, bagaimana mungkin seorang anak muda yang masih hijau mampu mengalahkan seorang kesatria besar seperti Arya Jipang?
Seperti kita ketahui, untuk mengetahui peta kekuatan musuh, maka dibutuhkan intelejen, maka ditengah konflik itu, pihak kesultanan mengutus tujuh orang intelejen untuk menyamar menjadi santri ke Jipang. Akan tetapi na’asnya tujuh orang tersebut ketahuan dan di beri hukuman mati dan dkuburkan di Jipang, dan begitulah peperangan, tidak ada kehormatan dalam sebuah peperangan.
Mengetahui intelejennya gagal, JK melakukan misi diplomatik dengan pergi mendatangi Arya Jipang. Mengetahui akan datangnya JK, SK melihat ada kesempatan untuk mengalahkan Demak dengan cara membunuh JK. Lalu SK merajah (memberi mantra, -red) sebuah kursi yang diproyeksikan akan diduduki JK, dan ketika JK menduduki kursi tersebut diharapkan segala kesaktian JK akan hilang. Akan tetapi, JK bukanlah bayi kemarin sore, dia tahu apa yang sedang direncanakan SK, maka dengan sedikit memanas-manasi dia menantang Arya Jipang untuk menduduki kursi tersebut . Karena Arya Jipang mudah terpancing emosi, maka dia menduduki kursi tersebut, dan musnah lah segala kesaktiannya.
SK kecewa melihat Arya Jipang yang mudah emosi, sehingga rencanya berantakan. Setelah kehilangan kesaktiannya, maka untuk mengembalikan kekuatan Arya Jipang, Arya jipang berpuasa 40 hari tanpa makan dan minum. Pada titik ini terdapat dua versi cerita, ada yang mengatakan Arya Jipang salah hitung, sehingga baru 39 hari Arya Jipang sudah mengadakan pesta, sehingga puasanya batal dan hanya lapar-dahaga yang diperolehXP. Tetapi versi lain mengatakan bahwa Arya Jipang telah menggenapi 40 hari, sehingga beliau memperoleh kembali kekutannya.
Kemudian hari berlalu, Setelah kesultanan memiliki kesatria yang akan digunakan untuk menaklukkan Arya Jipang, yaitu Mas Ngabei Loring Pasar. Maka kesultanan mengirim sebuah surat tantangan kepada Jipang, tetapi sadisnya untuk mempermalukan Arya Jipang, pihak kesultanan mendatangi seorang pencari rumput di kadipaten Jipang. Mereka memotong salah satu kuping pencari rumput tersebut, dan meletakkan surat di kuping yang lainnya. Melihat hal tersebut, Arya Jipang merasa dihinakan, dia menerima tantangan tersebut. Kemudian kedua belah pihak mulai menyusun tak-tik peperangan, SK meminta Arya Jipang bertahan di daerahnya, Arya jipang harus bertahan di tepi sungai bengawan sore dan membiarkan Prajurit Demak melintasinya, karena Sungai tersebut akan di rajah, sehingga barang siapa yang melewati sungai tersebut, segala kesaktiannya akan hilang.
Prajurit Kesultanan bergerak ke arah Kadipaten Jipang dengan dipimpin seorang pemuda yang gagah berani, Mas Ngabei Loring Pasar dengan membawa sebah tombak, bernama Tombak Kyai Plered, tidak asing bukan namanya?. Mas Ngabei Loring Pasar awalnya agak gentar juga menghadapi Arya Jipang yang jauh lebih matang dari dirinya. Akan tetapi, karena pihak kesultanan mempunyai seorang Ki Juru Mertani, seorang bijaksana yang ahli stategi perang, maka Mas Ngabei Loring Pasar pun menerima misi yang berat tersebut. Mengetahui bahwa Arya Jipang bukanlah tandingan Mas Ngebei Loring pasar muda, Ki Juru Mertani pun mempunyai strategi kusus untuk menghadapi Arya Jipang.
Sebagai informasi, di jamannya Arya Jipang adalah sebuah kesatria yang sudah punya nama besar, beliau memiliki sebuah keris pusaka, yaitu Kyai Setan Kober, dan kuda jantan hitam kesayangannya, Gagak Rimang. Maka berdasarkan usul dari Ki Juru Mertani, Mas Ngabei loring Pasar di beri kuda betina putih untuk di gunakan selama bertempur, dan diberi pesan agar tidak menyeberangi Bengawan Sore.
Singkat cerita, Laju pasukan kavaleri Mas Ngabei Loring Pasar terhenti di tepi bengwan sore, di sisi lain sungai tersebut sudah digelar pasukan Arya Jipang. Pertempuran pun akan segera terjadi, dan membiarkan Bengawan sore menjadi saksi bisu sejarah ini, sebuah sejarah yang tidak pernah tertulis dibuku sejarah SD, SMP, maupun SMA. Suasana di bengwan sore hari itu cukup ramai, sebuah ibu kota kadipaten kecil yang biasanya sepi kini menjadi ramai, di penuhi oleh kesatria-kesatria Jawa untuk beradu kesaktian.
Arya Jipang dengan menunggangi Gagak Rimang dan berbekal Setan Kober memimpin di garis depan prajuritnya, beliau dihujani beribu-ribu anak panah dari kesatria-kesatria Kesultanan, akan tetapi panah-panah tersebut tidak pernah mau untuk melukai Arya Jipang. Arya Jipang mulai diatas angin, dia berteriak-teriak menantang kesatria-kesatria Kesultanan untuk datang menghadapinya. Disaat itulah muncul sosok anak muda Mas Ngabei Loring Pasar dari balik kerumunan kesatria-kesatria Kesultanan.
Mas Ngabei Loring Pasar dengan agak gentar dan membawa sebuah pusaka tombak kyai Pleret, berjalan dengan menunggangi kuda putih betinanya ke tepi sungai, sebuah langkah perlahan tapi pasti. Melihat seorang pemuda dengan kuda betinanya menghampiri dari seberang sungai. Gagak Rimang, sang kuda, menjadi birahi, kuda tersebut langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepada kuda lawannya. Arya Jipang jadi kebingungan, dia tidak dapat mngentrol kuda kesayangannya, dan berlarilah Gagak Rimang menyeberangi sungai dengan membawa Arya Jipang diatasnya.
Dengan seketika ilmu kesaktian Arya Jipang hilang, sesampainya di hadapannya, Mas Ngabei Loring Pasar segera menancapkan tombak kyai pleret ke perut Arya Jipang. Usus Arya Jipang segera terburai. Berdasarkan kebiasaan kesatria jawa, ketika perang, jarik yang dikenakan akan diselempangkan ke warangka (wadah, -red) keris untuk memudahkan pergerakan, begitu pula usus Arya Jipang yang terburai, usus-usunya di selempangkan ke warangka Setan Kobernya. Mas Ngabei Loring Pasar mulai gentar ketika melihat usus musuhnya sudah teburai tapi belum mati, dan kini jarak tempur mereka sudah pendek, bisa saja nyawanya melayang dengan sekali tebasan dari Arya Jipang. Ketika jarak pertempuran sudah pendek, Arya Jipang mengeluarkan Setan Kober dari warangkanya, dan….
Gugurlah Arya Jipang di tepi sungai ketika mengeluarkan kerisnya, usus-usunya terpotong oleh kerisnya sendiri ketika hendak di cabut. Dan gugur lah beliau di Sungai, seperti bapaknya yang gugur di tepi sungai.
Itu lah sekelumit sebuah kisah yang sudah banyak di belokkan.Sebuah Kesultanan yang baru merintis dinastinya hancur karena pertikaian internal keluarga, sebuah Kesultanan Demak Bintara, yang didirikan oleh Babah Patah (Raden Fattah), dan mempunyai putera mahkota Pati Unus atau lebih terkenal dengan istilah Pangeran Sabrang Lor (Secara bahasa, Pengeran Pati adalah Putera mahkota, Sabrang adalah Menyeberang, Lor adalah Utara. Dia dijuluki seperti karena memimpin penyerbuan ke Malaka yang mana utara pulau jawa, -red). Pati Unus mempunyai adik, yaitu Sultan Trenggono (ST) dan Suramiyata. Sunan Trenggono mempunyai anak Sunan Prawoto (SP) yang dibunuh utusan Arya Jipang, Ratu Kali Nyamat, dan seorang Puteri yang di peristri Mas Krebet alias Jaka Tingkir (JK) alias Sultan Hadiwijaya. Ratu Kalinyamat punya suami yang bernama Pangeran Hadiri yang juga terbunuh, dan kemudian dia bertapa telanjang.
Sedangkan Suramiyata alias Panembahan Sekar Seda Lepen mempunyai anak yang hanyut ketika beliau wafat di Sungai, dan anak tersebut ditemukan oleh Sunan Kudus (SK) di tepi sungai, maka dia diberi nama Arya Penangsang (Penangsang = tersangkut, -red). Karena Arya Penangsang adalah seorang kesatria dari Jipang, maka dia disebut Arya Jipang. Ironisnya Arya Jipang terbunuh oleh kerisnya sendiri ketika bertempur melawan Danang Sutawijaya yang merupakan anak Ki Ageng Pemanahan. Dia di beri gelar Mas Ngebei Loring Pasar karena dia seorang kesatria serba bisa (Ngabehi) dan rumahnya berada di Utara pasar (Loring Pasar, Lor = utara, -red), dan kemudiana kita kenal sebagai Panembahan Senapati Ing Alaga (Senapati = panglima perang, Ing = di, Alaga = peperangan, -red), jadi berarti Pemimpin yang Merupakan Panglima perang di peperangan.
Setelah mengalahkan Arya Jipang (Arya Penangsang), Jaka Tingkir mewarisi kesultanan Demak, dan namanya di ganti menjadi Kesultanan Pajang, karena ibu kotanya di pindah ke daerah Pajang, sekarang dekat solo. Kemudian Jaka Tingkir memenuhi janjinya kepada Ki Ageng Pemanaham untuk memberikan sebidang tanah perdikan, yaitu Bumi Mentaok atau Alas Mentaok (alas = hutan, -red). Alas Mentaok terletak di Yogyakarya, atau sekarang terkenal dengan nama kota gedhe.
Begitulah akhir cerita ini, Anda dapat menyimpulkan sendiri, paling tidak persepsi terhadap Arya Jipang bisa berubah, karena Arya Jipang di daerah sekitar Blora dianggap sebagai pahlawan.
Sumber : Cerita sebelum tidur ketika aku masih kecil oleh Bapakku dan Almarhumah Ibuku.

Jalan Jalan Berasal Dari Datu Merpati Jepang

Jalan2 tersebut ialah:

Jalan Temenggong Haji Gobil
Jalan Haji Taha
Jalan Tan Sri Abang Ikhwan
Jalan Patinggi Ali
Jalan Haji Mataim
Jalan Haji Bolhassan
Bulatan Datuk Kipali bin Abang Akip
Jalan Datuk Abang Abdul Rahim
Jalan Dato Bandar Mustapha
Jalan Dato Permaisuri

Anak Cucu Cicit Merpati Jepang






Mengikut catatan dan cerita-cerita dari orang-orang tua dahulu Datu Merpati Jepang mempunyai dua orang anak yang bernama Pateh Mengada dan Pateh Sangguna. Pateh Mengada pula ada mempunyai seorang anak lelaki bernama Pateh Malang yang dikata beristerikan cucu kepada Abang Kuli. Pateh Malang pula mempunyai dua orang anak, seorang anak lelaki bernama Abang Kuntum dan seorang anak perempuan yang bernama Dayang Paku. Abang Kuntum telah di lantik oleh kerjaan negeri Brunei sebagai Datu Patinggi didalam wilayah Sarawak, iaitu meliputi kawasan daripada Tanjung Datu sehingga Batang Samarahan. Pada masa dahulu ianya dibawah tahta Kerjaan Negeri Johor. Mungkin atas perlantikan Sultan Mahkota Mohammad Alam Shah maka wilayah Sarawak, Kalaka, Saribas dan Sadong diserah oleh Sultan Johor kepada Brunei dalam akhir kurun ke 14. Kemudian gelaran Datu Patinggi disandang oleh anak beliau bernama Patinggi Betong.
Pateh Sangguna juga mempunyai seorang anak lelaki bernama Abang Kertang. Abang Kertang pula mempunyai seorang anak lelaki bernama Abang Alil yang kemudiannya dilantik menjadi Temenggong. Kedua-dua gelaran Datu Patinggi dan Datu Temenggong adalah pangkat kebesaran Brunei yang dianugerah oleh Datu Seri Bulan, Permaisuri Sultan Mahkota Brunei. Nama-nama gelaran pembesar yang ditauliah oleh kerjaan Brunei pada masa itu ialah Datu Patinggi Seri Setia, Datu Shahbandar Indera Wangsa, Datu Amar Seri Diraja, dan Datu Temenggong Laila Wangsa.

Tidak banyak maklumat yang dicatat mengenai keturunan Pateh Sangguna. Nampaknya semua keturun beliau ditabal dengan gelaran Temenggong seperti anak kepada Datu Temenggong Abang Alil juga menjadi Temenggong bernama Temenggong Abang Metang dan anak lelakinya pula bergelar Datu Temenggong Abang Bunian.

Patinggi Betong , keturunan ke empat Pateh Mengada mempuyai anak lelaki bernama Abang Kaim atau Daim yang merupakan orang Melayu pertama yang berhijrah dari Santubong ke Lidah Tanah, sebuah tempat dimana Sungai Sarawak bercabang dua menjadi Sungai Sarawak Kanan dan Sungai Sarawak Kiri. Abang Kaim kemudian di kurnia dua orang anak kembar yang bergelar Datu Kebar dan seorang lagi tidak di katahui nama beliau. Datu Kebar ada mempunyai enam orang anak, diantaranya ialah Patinggi Mir, adiknya Patinggi Hashim, Dayang Daun dan Dayang Karamatiku yang bersuami dengan seorang jejaka dari Brunei. 

Patinggi Hashim pula mempunyai empat orang anak kesemuanya lelaki bernama Abang Ali, Datuk Bandar Rannah, Abang Razak dan Abang Amir. Anak Abang Amir yang sulong bernama Datuk Patinggi Abang Ali ialah seorang pahlawan Melayu yang memberontak menentang kerjaan dibawah tadbiran Pengiran Indera Mahkota dalam tahun 1840. Selepas mangkat Sultan Pengiran Tengah pada tahun 1641, Sultan Brunei, Sultan Muhammad Tajuddin melantik Abang Ali sebagai Datu Patinggi Seri Setia mewakili Kerjaan Negeri Brunei memerentah wilayah Sarawak. Apa bila logam ‘antimony’ telah dijumpai di Bau maka Sultan Muhammad Kanzul Alam melantik Pengiran Muhammad Salleh Ibnu Pengiran Sarifuddin menjadi Gabenor Sarawak. Cara beliau mentadbir kerjaan tidak mengikut peraturan dan ada kala memeras penduduk tempatan. Pusat pemeratahan pun dipindah beliau dari Lidah Tanah ke Kuching. Oleh kerana kehidupan penduduk menjadi perit dan tertindas maka terjadila pemberontakan yang diketuai oleh Patinggi Abang Ali. Kemudian dengan bantuan James Brooke Lidah Tanah pun di tawan pada akhir tahun 1840. Oleh yang demikian kegiatan menentang pentadbiran Pengiran Indera Mahkota yang telah diambilalih oleh Pengiran Muda Hashim pun tamat dan Patinggi Ali serta pengikutnya menyerah diri dengan bersyarat.

Dalam satu ekpedisi untuk mendamaikan dua puak Dayak yang bertilingkah di Batang Skrang, Patinggi Abang Ali telah terbubuh. Mereka sangkakan Patinggi Ali diperentah James Brooke untuk menawan puak yang berperang. Apa bila Patinggi Ali meninggal dunia ramailah penduduk Lidah Tanah berpindah ke Kuching termasuk anak-anak Patinggi Ali sendiri. Kebanyakan orang-orang Melayu mendiri rumah ditepi Sungai Sarawak berhampiran Munggu Kubur. Disitula Masjid pertama didirikan bertiang kayu belian sebelum ketibaan James Brooke pada tahun 1839. Kemudian dibawah jagaan Datu Bandar Mohammad Lana, anak lelaki pertama Patinggi Ali, satu kutipan dijalankan untuk membina Masjid yang lebih besar. Masjid tersebut pun dibina atas tanah bukit pada tahun 1852. Imam pertama ialah Datu Patinggi Abang Abdul Ghapur ( sila lihat Lampiran 3) beristerikan dengan anak Patinggi Ali bernama Dayang Inda. Patinggi Ghapur sebenarnya tidak suka negeri Sarawak diperentah oleh orang asing dan secara senyap-senyap cuba menentang Kerjaan James Brooke. Akan tetapi rancangan beliau telah dikatahui oleh James Brooke melalui anak Temenggong Mersal yang bernama Abang Pata. Menurut cerita orang tua juga, Abang Pata adalah kawan baik James Brooke. Orang yang pertama dijumpai James Brooke ialah Abang Pata yang memiliki Pulau Talang-talang dan juga Pulau Satang. Sewaktu James Brooke tiba di perairan Sarawak, beliau singgah di Pulau Talang-talang Besar untuk membetulkan dan menyemak semula carta pelayaran beliau. Ada lah dikatakan Abang Patalah orang yang membantu James Brooke belayar ke Santubong dan kamudian ke Kuching untuk menyampai pesan Gabenor Singapura kepada Pengiran Muda Hashim. Jadi untuk mematah rancangan Patinggi Ghapur James Brooke pun menghantar Patinggi Ghapur mengerja haji. Selepas itu Patinggi Ghapur dibuang negeri ke Melaka dan berada disana sehingga akhir hayatnya. Begitulah sikap James Brooke yang pantang ditentang. Beliau tidak mahu rancangan beliau hendak membina sebuah Negara dihalang oleh sesiapa pun. 

Untuk menganti Patinggi Ghapur sebagai Imam, James Brooke melantik Abang Haji Bolhassan, anak lelaki Patinggi Ali yang kedua daripada tahun 1854 hingga 1865. Apabila Datu Bandar Lana meninggal dunia maka Abang Haji Bolhassan dilantik mengambilalih jawatan abang beliau sebagai Datu Bandar. Selepas itu jawatan Imam Masjid pun diambilalih oleh Tuan Haji Abdul Karim hingga beliau meninggal dunia pada tahun 1877. Kemudian jawatan Imam Masjid pun diserah kepada anak Patinggi Ali yang bongsu, iaitu Abang Mohammad Taim atau dengan nama ringkasnya Mataim. Imam Mataim menyandang jawatan itu selama 21 tahun daripada tahun 1877 hingga beliau meninggal dunia pada tahun 1898. 


Dari masa kesemasa Masjid Besar telah diperelok dan dilengkapkan dengan kerperluan para jamaah. Dalam tahun 1932, apabila Abang Haji Abdillah, cucu kepada Datu Bandar Abang Haji Bolhassab menjadi Datu Shahbandar, beliau dan Datu Imam Abang Haji Morshidi dan Datu Menteri Abang Haji Mohammad Zen mengunakan hasil penjualan telur penyu untuk kebajikan orang Islam dan juga untuk memperelokan bangunan Masjid yang dibena pada tahun 1852 tersebut Mereka bertiga telah diberi kuasa oleh Charles Vyner Brooke untuk mengutip telur penyu untuk dijual bagi tabung kebajikan orang-orang Islam pada masa itu. Kedua Datu Patinggi Abdillah dan juga Datu Imam Abang Haji Morshidi masing-masingnya mempunyai sebuat perahu bedar yang bernama Leonora dan Sentosa untuk pergi di Pulau Talang-talang dan Satang Besar mengutip telur penyu. Penulis masih ingat semasa budak-budak lagi melihat perahu bedar di pangkalan yang dibina dalam Sungai Bintangor berdekatan dengan Darul Kurnia. Pada masa itu Sungai Bintangor tidaklah tercemar seperti sekarang ini. Air Sungai tersebut bersih dimana penulis dan sepupu-sepupu beliau yang sebaya belajar berenang dalam Sungai tersebut dan memancing ikan Semilang, ikan Bekut, ikan Haruan dan ikan Baong. Maka dengan adanya pendapatan daripada jualan telur penyu pada tiap-tiap tahun, maka dapatlah ianya diguna untuk mengurus perbelanjaan masjid.

Dengan adanya rumah ibadat dibina berhampiran dengan pusat Kerjaan, maka ramailah penduduk orang Melayu berhijarah ke Kuching dan mendiri rumah dan kampung halaman seperti Kampung Boyan, Kampung Gersik, Kampung Sourabaya, Kampung Sungai Bedil Besar, Kampung Jawa, Kanpung Sinjan dan sebagainya. Ada pun nama-nama kampung ini menunjukan asal negeri penduduk-peduduk berkenaan.. Mereka pergi ke Kuching atas urusan berdagang, mencari perkerjaan diladang-ladang getah dan sebagainya. Mereka datang atas sebab ada tali persaudaraan diantara penduduk tempatan dengan orang-orang dari pada Jawa, Sambas dan Sumatera. Tidak kurang juga kaum Dayak dari pendalaman seperti Batang Lupar berpindah ke Kuching. Tempat kediaman mereka adalah seberang sungai bertentangan dengan Kampung Gersik. Jadi Kuching sejak dari dahulu telah menjadi pusat yang dihuni oleh belbagai bangsa dan keturunzan termasuk warga China yang diambil berkerja dilombong emas dan juga berniaga. .


#Thank to Abang Lutfi Abang Naruddin